Copyright 2018 - http://lpse.parigimoutongkab.go.id/
  • .

  • .

  • .

  • .

  • .

logo kemenkes landscape PARIGILymphatic Filariasis (LF) adalah salah satu penyakit pada manusia, disebabkan oleh tiga jenis cacing filaria Wuchereria bancrofti, Brugia malayi and Brugia timori, dan ditularkan melalui nyamuk.Cacing filarial merusak saluran getah bening dan membuat penderitanya menderita kecacatan menetap dalam bentuk pembengkakan pada tungkai atau anggota tubuh lainnya.Sekitar 128 juta orang di dunia terinfeksi LF dengan 40 juta orang menderita kecacatan kronis seperti limfedema (kaki gajah) atau pembesaran buah zakar (hidrokel).LF membuat penderitanya tidak bisa beraktifitas atau bekerja normal, yang berdampak kerugian ekonomi sekitar 4 milyar dollar secara global. ahun 1997, the World Health Assembly membuat resolusi 50.29 untuk eliminasi LF sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat di tahun 2020. Resolusi ini disambut WHO dengan meluncurkan program eliminasi LF global (GELPF) pada tahun 2000, dengan strategi utama pemberian obat masal pencegahan (POPM) LF dalam memutuskan rantai penularan penyakit, selain penatalaksanaan kasus kronis untuk mereka yang telah mengalami kecacatan LF yang menetap. POPM LF dilakukan dengan memberikan kombinasi obat DEC dan Albendazole, sekali setahun selama lima tahun berturut-turut di kabupaten/kota yang dinyatakan endemis LF.

IMG20170905123653

Di Indonesia upaya pemberantasan Filariasis telah dilaksanakan sejak tahun 1975 terutama di daerah endemis tinggi Filariasis. Pada tahun 1997, World Health Assembly menetapkan resolusi “Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem”, yang kemudian pada tahun 2000 diperkuat dengan keputusan WHO dengan mendeklarasikan “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by the Year 2020”. Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening. Penyakit ini dapat merusak sistem limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae, dan scrotum, menimbulkan cacat seumur hidup serta stigma sosial bagi penderita dan keluarganya. Secara tidak langsung, penyakit yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk ini dapat berdampak pada penurunan produktivitas kerja penderita, beban keluarga, dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi negara yang tidak sedikit. Hasil penelitian Departemen Kesehatan dan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia tahun 1998, menunjukkan bahwa biaya perawatan yang diperlukan seorang penderita Filariasis per tahun sekitar 17,8% dari seluruh pengeluaran keluarga atau 32,3% dari biaya makan keluarga.

IMG20170905123710

Di Indonesia, sampai dengan tahun 2014 terdapat lebih dari 14 ribu orang menderita klinis kronis Filariasis (elephantiasis) yang tersebar di semua provinsi. Secara epidemiologi, lebih dari 120 juta penduduk Indonesia berada di daerah yang berisiko tinggi tertular Filariasis.Sampai akhir tahun tahun 2014, terdapat 235 Kabupaten/Kota endemis Filariasis, dari 511 Kabupaten/kota di seluruh Indonesia.Jumlah kabupaten/kota endemis Filariasis ini dapat bertambah karena masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum terpetakan. Pemberian obat masal dilakukan di tingkat unit pelaksana (Implementation Unit/IU). Di Indonesia, unit implementasi adalah Kabupaten/Kota. Penetapan Kabupaten/kota menjadi endemis LF adalah jika populasi rata-rata, atau populasi di satu wilayah di bawah kabupaten (desa atau kelurahan), memiliki angka positif antigenemia atau microfilaremia ≥1.0%.Status infeksi LF pada umumnya diukur dari ditemukannya mikrofilaria, serta kepadatannya di dalam darah.

IMG20170905123716

Evaluasi untuk menilai berhentinya penularan LF dilakukan melalui Survei Pengukuran Penularan (TAS) untuk daerah endemic LF yang telah menyelesaikan setidaknya lima putaran POPM dengan cakupan pengobatan minimal 65% dari total penduduk dan prevalensi microfilaraemia <1% didesa sentinel atau desa spot-check. Dalam buku panduan monitoring dan evaluasi POPM LF WHO (2011), di setiap kabupaten endemis memenuhi persyaratan kelayakan TAS, survei harus dilakukan selama tiga kali dengan jarak antar survei 2 tahun, sebelum kabupaten/kota bisa memasuki tahap validasi dan verifikasi pemberantasan LF. Tetapi di Indonesia memungkinkan terjadinya kegagalan dalam evaluasi sehingga akan dibutuhkan lebih banyak putaran POPM LF tambahan maupun TAS.

Tujuan Transmission Assessment Survey (TAS) atau Survei Pengukuran Penularan LF dirancang untuk mengukur apakah unit evaluasi telah berhasil menurunkan prevalensi infeksi ke tingkat di mana rebakan penularan baru tidak mungkin terjadi, meskipun POPM LF telah dihentikan. Tingkat infeksi ini, atau ‘critical cut–off‘, diperkirakan dengan memakai prevalensi antibodi positif anak-anak untuk daerah-daerah endemis Brugia malayi.

IMG20170905123719

Kabupaten Parigi Moutong telah melaksanankan TAS I dan TAS II untuk mendukung proses eliminasi filariasis di Parigi Moutong . Pada tahun 2017 Dinas Kesehatan Kab. Parigi Moutong kembali melakukan on the job training (OJT) TAS III dengan melibatkan pengelola filariasis kabupaten dan puskesmas.

Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kab.Parigi Moutong

Banner TTG 2017